”Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dalam Konsep Klasifikasi Mahluk Hidup Dengan Meggunakan Metode Numbered Heads Together (NHT) di Kelas VII A SMP Negeri 1 Bantarkalong Tasikamalaya”. Penulis : Tutun Rubinah Hidayat, SPd.

Artikel Ilmiah

Judul : ”Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dalam Konsep Klasifikasi Mahluk Hidup Dengan Meggunakan Metode Numbered Heads Together (NHT) di Kelas VII A SMP Negeri 1 Bantarkalong Tasikamalaya”.

Penulis : Tutun Rubinah Hidayat, SPd.

Guru Mata Pelajaran IPA

Unit Kerja : SMPN 1 Bantarkalong Kab. Tasikmalaya

Alamat : Jl. Pemuda 2 Hegarwangi Kec Bantarkalong Kab. Tasikmalaya 46187- Tlp. (0265) 580086/ Hp: 081323511548.

ABSTRAK

Belajar dengan mengandalkan guru sebagi satu-satunya sumber belajar telah membawa siswa benar-benar bergantung pada guru. Interaksi pembelajaran terjadi searah, merasa takut bila jawaban tidak sama, ide atau gagasan baru tidak berkembang, takut untuk bertanya khawatir pertanyaan tidak mengena, sering kali siswa tidak menghargai ide, pendapat temannya, serta malas membaca buku sumber/materi pelajaran. Sehingga suasana kelas benar-benar tenang, tertib, sunyi, pasif, dan inovasi  serta kreatifitas menjadi buntu.

Hal tersebut telah menjadi perhatian guru di SMPN 1 Bantarkalong karena berdampak pada hasil proses pembelajaran itu sendiri berupa aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Melalui PTK masalah ini dicoba untuk diatasi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan teknik Numbered Heads Together (NHT).

PTK ini dilakukan dalam 3 siklus selama 3 minggu pada tanggal  22 Pebruari sampai 15 Maret 2011, dengan tujuan penelitian ”Meningkatkan aktivitas siswa, meningkatkan hasil belajar siswa dan mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan teknik Numbered Heads Together(NHT)”.

Data diperoleh melaui observasi, pemberian test, dan penyebaran angket, kemudian dianalisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian diperoleh : Ketuntasan belajar siswa siklus 3 hasil  pembelajaran kognitif menunjukkan 96,67 % tuntas dengan rata-rata 9,07, dan berdasarkan pengamatan  serta  hasil angket pada siklus 3  100% siswa aktif mengikuti pembelajaran, 99 %  mampu mengerjakan LKS dengan benar, dan  hampir 100 % siswa mencatat hasil diskusi mapun hasil akhir pempelajaran atau kesimpulan, lebih percaya diri dan menurut siswa  pembelajaran kelompok dengan teknik NHT ini perlu untuk dikembangkan.

KATA KUNCI: Proses Belajar, Hasil Belajar, Numbered Heads Together (NHT).

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Belajar dengan mengandalkan guru sebagi satu-satunya sumber belajar telah membawa siswa benar-benar bergantung pada guru. Interaksi pembelajaran terjadi searah, jawaban siswa seragam terbelenggu, merasa takut bila jawaban tidak sama, ide atau gagasan baru tidak berkembang, takut untuk bertanya khawatir pertanyaan tidak mengena, belum lagi merasa sulit untuk merangkaikan kata-kata dalam menjawab dan bertanya dengan kalimat yang bagus, sering kali siswa tidak menghargai ide, pendapat temannya. Sehingga suasana kelas benar-benar tenang, tertib, sunyi, pasif, dan inovasi  serta kreatifitas menjadi buntu.

Kondisi tersebut dapat mengakibatkan ketergantungan antara peserta didik dengan guru terlalu tinggi, kreatifitas siswa rendah, daya nalar dan daya pikir pun rendah, sehingga bisa jadi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik kurang. Ini tidak sejalan dengan reformasi dibidang pendidikan kita. Suasana pembelajaran yang lebih menekankan pada kemandirian peserta didik akan dapat mendorong pembelajar termotivasi untuk belajar, dan selalu siap bekerja sama dalam pembelajaran yang dapat menambah kepercayaan diri, kreatif, dan inovatif.  Pembelajaran seperti ini akan mendorong pembelajar untuk meningkatkan kemampuan dalam mengkonstruksi pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas.

Menurut Wina Sanjaya (2007), Suasana belajar dan pembelajaran harus selalu diarahkan agar peserta didik dapat megembangkan potensi dirinya. Ini berarti proses pembelajaran di kelas diusahakan harus selalu berpusat atau berorientasi pada siswa.  Untuk itu dibutuhkan pembelajaran IPA  yang menarik, menyenangkan dan sekaligus berpusat pada siswa agar diperoleh hasil yang memuaskan.

Hasil pengamatan dan pengalaman mengajar di SMP negeri 1 Bantarkalong selama ini, penulis merasakan bahwa kondisis pembelajaran seperti yang telah diungkapkan didepan benar-benar terjadi sehingga motivasi dan prestasi siswa sangat rendah. Untuk itu perlu diupayakan pembelajaran yang menjadikan siswa menjadi subyek pembelajaran, dimana siswa diberi kesempatan berinteraksi dengan berbagi sumber belajar, dan menempatkan guru sebagi motivator, innovator, planner, fasilitator dan developer. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis perlu melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Dari data 2009/2010, bahwa daya serap untuk materi klasifikasi Mahluk Hidup   belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75 %. Untuk itu perlu dicari solusi yang tepat agar tujuan pembelajaran dalam materi tersebut tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Melalui pembelajaran IPA  dengan menggunakan Model pembelajaran Cooperatif Learning dengan  teknik NHT (Numbered Heads Together) permasalahan ini dicoba untuk diperbaiki yang diharapkan dengan metode ini dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa dalam konsep  Klasifikasi Mahluk Hidup.

B. Permasalahan

Berdasarkan Uraian tersebut diatas maka dapat dibuat rumusan masalah  sebagai berikut : ”Apakah penggunaan metode Numbered Heads Together (NHT) dapat   meningkatkan hasil belajar siswa dalam konsep Klasifikasi Mahluk Hidup?”.

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

  1. Meningkatkan aktivitas siswa melalui penggunaan metode Numbered 0Heads Together (NHT) pada konsep Klasifikasi Mahluk Hidup.
  2. Meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan metode Numbered Heads Together (NHT) pada konsep Klasifikasi Mahluk Hidup.
  3. Mengetahui respon siswa terhadap penggunaan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT).
  4. D.      Manfaat Penelitian

Bagi Guru :

  1. Mengembangkan metode dan model-model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan sehingga dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran IPA di kelas.
  2. Dapat meningkatkan kualitas pembalajaran.
  3. Dapat meningkatkan kompetensinya dalam merancang model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan tidak membosankan.
  4. Dapat meningkatkan minat untuk melakukan penelitian dalam upaya meningkatkan profesionalisme.

Bagi Siswa :

  1. Meningkatkan rasa senang dan termotivasi untuk belajar IPA.
  2. Dapat meningkatkan aktivitas dalam pembelajaran dan tertarik dengan mata pelajaran IPA.
  3. Dapat meningkatkan hasil belajar IPA.
  4. Meningkatkan Kompetensi sosial siswa.
  5. E.       Definisi Operasional
    1. 1.    Pengertian Hasil Belajar

Hasil Belajar adalah proses perubahan dan perbaikan dari fungsi-

fungsi psikis yang menjadi sarat dan mendasari perbaikan tingkah laku

dan kecakapan termasuk didalamnya perubahan dalam pengetahuan

pada proses belajar.

  1. 2.    Pengertian Prestasi Belajar

      Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan atau hasil yang telah dicapai dari perubahan tingkah laku.

  1. 3.    Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor

dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri

siswa atau faktor lingkungan.

  1. 4.    Numbered Heads Together (NHT)

Teknik belajar mengajar kepala bernomor (Numbered Heads

Together)adalah salah satu pendekatan yang dikembangkan oleh

Spencer Kagan (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa

dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pembelajaran

juga mengecek pemahamn mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.      Hasil Belajar

Hasil Belajar adalah poses perubahan atau perbaikan dari fungsi-fungsi

psikis yang menjadi syarat dan mendasari perbaikan tingkah laku dan kecakapan termasuk didalamnya perubahan pada proses belajar

(Purwanto 2006 : 86). Sedangkan menurut (Sudjana 2004 : 22)

hasil belajar adalah kemampuan – kemampuan yang dimiliki siswa

setelah ia menerima pengalaman belajar.

Menurut pengertian secara psikologis, belajar meupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memahami kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.

Menurut Gagne (2003 : 17) perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus menerus bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan juga.

Agar proses belajar dapat berlangsung denagn baik , maka diperlukan suatu aktivitas yang terdiri dari 2 komponen yang biasa dikenal sebagai proses belajar mengajar, merupakan konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Bloom membagi klasifikasi hasil belajar menjadi 3 ranah. Ranah kognitif, ranah  afektif, dan ranah psikomotorik.

  1. Ranah Kogitif

Berkaitan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan, pamahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

  1. Ranah Afektif

Berkaitan dengan sikap dari 5 aspek yakni penerimaan, tanggapan, penelitian, dan organisasi.

  1. Ranah Psikomotor

Berkaitan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak secara umum meliputi gerakan seluruh badan dan kemampuan dalam berbicara. Hasil belajar tersebut selalu berhubungan satu sama lain.

B.   Prestasi Belajar

Beberapa definisi prestasi belajar yang dikemukakan oleh para ahli psikologi pendidikan antara lain, Tamsik Udin (1997) berpendapat bahwa ”Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan atau dikerjakan”. Dan Mohamad Ali (1985) menyatakan bahwa : ”Prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku yang dapat diukur, untuk mengkur perubahan tingkah laku dapat digunakan tes prestasi belajar”, dari definsi tesebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari perubahan tingkah laku.

Hasil Pengajaran IPA dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan prestasi yang dicapai masing-masing kelompok berupa nilai. Adapun kriteria keberhasilan belajar berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan Penilaian yang dikeluarkan Depdiknas (2002) mencantumkan kriteria keberhasilan siswa dalam belajar sebagai berikut :

Seseorang telah belajar tuntas, jika sekurang-kurangnya dapat mengerjakan soal 65% dalam ulangan harian atau 60% dalam ulangan caturwulan. Secara proforsional, hasil belajar suatu rombongan belajar dikatakan baik apabila sekurang-kurangnya 85% anggotanya yang tuntas hanya 75% maka hasil belajaranya dikatakan cukup,dan hasil belajar dikatakan kurang apabila prosentase anggota yang tuntas kurang dari 60%.

C.   Faktor Yang Mempenagruhi Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri sisa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.

Faktor yang datang dari siswa terutama faktor kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. (Nana Sudjana : 1989 : 39).

Seperti dekemukakan oleh Clark, bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungannya. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juaga ada faktor lain seperti motivasi belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

Menurut Nana Sudjana (1989), salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah ialah kualitas pengajaran, yaitu tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mmengajar dalam mencapai tujuan pengajaran. Oleh sebab itu hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Pendapat ini sejalan dengan teori belajar di sekolah.

(Theory of school learning) dari Bloom, yang mengatakan ada tiga variable utama dalam teori belajar, yakni karakteristik individu, kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa. Sedangkan Caroll, berpendapat bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh lima faktor, yakni : (a) bakat belajar, (b) waktu yang tersedia untuk belajar, (c) waktu yang diperlukan siswa untuk menjelaskan pelajaran, (d) kualitas pengajaran, dan (e) kemampuan individu.

Kedua fakor di atas tadi (kemampuan siswa dan kualitas pengajaran) mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa. Artinya, makin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran, makin tinggi pula hasil belajar siswa.

Salah satu yang diduga mempengaruhi kualitas pengajaran adalah variabel guru. Cukup beralasan mengapa guru mempunyai pengaruh dominan terhadap kualitas pengajaran, sebab guru adalah sutradara dan sekaligus aktor dalam proses pengajaran. Ini tidaklah berarti mengesampingkan variabel lain seperti buku pelajaran, alat bantu pengajaran dan lain-lain.

Dari variabel guru yang paling dominan mempengaruhi kualitas pengajaran, adalah kompetensi profesional yang dimilikinya. Artinya kemampuan dasar yang dimiliki guru, baik dibidang kognitif (Intelektual), seperti penguasaan bahan, bidang sikap, seperti mencintai profesinya dan bidang perilaku seperti keterampilan menhajar, menilai hasil belajar siswa dan lain-lain.

Disamping faktor guru, kualitas pengajaran dipengaruhi juga oleh karakteristik kelas antara lain (besarnya kelas, suasana belajar, fasilitas dan sumber belajar yang tersedia), juga dipengaruhi oleh karakteristik sekolah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada tiga unsur dalam kualitas pengajaran yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, yakni : kompetensi guru, karakteristik kelas, dan karakteristik sekolah.

  1. D.    Model Pembelajaran Kooperatif  

Numbered Heads Together (NHT) termasuk pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan gabungan teknik instruksional dan filsafat mengajar yang mengembangkan kerjasama antar siswa untuk memaksimalkan pembelajaran siswa sendiri dan belajar dari temannya. (Killen, 1998). Ada dua komponen penting dalam pembelajaran kooperatif yaitu “a co-poperative task” yaitu bekerja sama dalam kelompok atas dasar tugas (wich is a feature of most group work) dan “a co-operative incentive structure”yaitu bekerja sama atas dasar latar belajar siswa (wich is unique to co-operative learning).

Art & Newman (1990,448) dalam http:/www.Indiana.edu menyatakan “cooperative learning has been defined as small group of learners working together as a team to solve problem, complete a task, or occomplish goal”.

Pembelajaran kooperatif bukanlah suatu konsep yang baru. Selama ini, para guru sering menggunakan strategi kerja kelompok dalam pembelajarannya. Namun, pada strategi pembelajaran ini pembagian kelompok siswa masih kurang heterogen, tidak memperhatikan tingkat kepandaian, atau latar belakang siswa.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, dan juga efektif untuk mengembangkan keterampilan kooperatif. Beberapa ahli berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.

Pembelajaran kooperatif jika dilatihkan dikelas dapat meningkatkan kompetensi sosial siswa misalnya terciptanya kehidupan masyarakat yang saling “asah,asih, asuh”, rukun, damai, harmoni tanpa saling curiga merupakan impian semua orang.

Keharmonisan dapat terwujud bila masing-masing mau terbuka, mau mendengar, saling memahami kekurangan serta kelebihan orang lain. Hal-hal seperti itu dapat dilatihkan kepada siswa sejak tingkat sekolah dasar.

Fase/ tahapan dalam model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

No

Fase

Perilaku Guru

1

Menyediakan obyek dan perangkat Guru mengemukakan tujuan, memotivasi siswa untuk belajar, menyediakan obyek dan membuat perangkat pembelajaran.

2

Menghadirkan/menyajikan informasi Guru menghadirkan/menyajikan informasi untuk siswa baik secara presentasi verbal ataupun dengan tulisan.

3

Mengorganisasi siswa dalam belajar kelompok Guru menjelaskan pada siswa bagaimana membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien. 
4 Membimbing bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok belajar ketika mereka sedang bekerja menyelesaikan tugas bersama.

5

Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipealajari atau masing- masing kelompok menyajikan hasil kerjanya.

6

Mengenali prestasi Guru mencari cara untk mengenali baik usaha dan prestasi individu juga kelompoknya dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupaun individu.
  1. E.     Numbered Heads Together (NHT)

Teknik belajar mengajar Kepala Bernomor atau Numbered – Heads – Together (NHT) merupakan pembelajaran kooperatif menggunakan pendekatan yang secara eksplisit menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif dari pada penghargaan individual. Tipe Numbered-Heads-Together digunakan untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi tertentu.

Numbered-Heads-Together (NHT) adalah suatu pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pembelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

Langkah – langkah struktur ini adalah penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab, dengan rincian sebagai berikut :

  1. Guru mengajukan pertanyaan.
  2. Tiap kelompok siswa masing-masing saling mendekatkan kepalanya (siswa berdekatan) untuk mendiskusikan jawabannya.
  3. Guru menunjuk nomor dari salah satu siswa untuk menjawab.
    1. Bila wakil kelompok bisa menjawab diberi penghargaan nilai (+), bila tidak bisa diberi nilai (-).
    2. Kegiatan dilanjutkan sampai selesai dan pada akhirnya nilai-nilai tiap kelompok dihitung dan kelompok yang nilainya tertinggi diberi penghargaan.
    3. F.      Pembelajaran IPA Di SMP Negeri 1 Bantarkalong

IPA di SMP Negeri 1 Bantarkalong mengacu pada kurikulum yang berlaku yaitu Kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX berpedoman pada kurikulum 2006 (KTSP). Sesuai dengan Permendiknas No. 23 tahun 2006, tentang kompetnsi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dan model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikn Dasar dan Menengah, serta mendistribusikan kepada setiap satuan pendidikan secara nasional.

Permendiknas No. 20 tahun 2007, tentang standar penilaian pendidikan. Poin 10, menyatakan,”Kriteria Ketuntasab Minimal (KKM)” adalah Ktriteria Ketuntasan Belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan  pendidikan. KKM pada akhir jenjang satuan pendidikan untuk kelompok mata pelajaran lain selain ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan nilai  batas ambang kompetensi.

Berdasarkan hal tersebut maka KKM IPA di SMP Negeri 1 Bantarkalong untuk kelas VII , kelas VIII, dan kelas IX adalah 75. Permendiknas No. 22 tahun 2006, tentang Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, isinya sebagai berikut :

Struktur Kurikulum SMP/MTs, meliputi substansi pembelajaran yang di tempuh dalam satu jenjang pendidikan selam tiga tahun mulai kelas VII sampai kelas IX, dengan ketentuan sebagai berikut :

-       Jam pembelajaran untuk mata pelajaran IPA dialokasikan 4 jam per minggu

-       Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit

-       Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34-38 minggu.

-       Jumlah jam pembelajaran tatap muka per minggu untuk SMP adalah 34 jam pelajaran

-       Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SMP maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

G.  Kerangka Berfikir

Pembalajaran dengan Numbered Heads Together (NHT) adalah suatu pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur yang heterogen. Agar diperoleh maksimal maka pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh siswa itu sendiri sesuai petunjuk guru atau dalam bentuk pertanyaan yang tertulis yang tertuang dalan Lembar Kerja Siswa (LKS).

Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan siswa terlibat aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap,dan keterampilannya dalam suasana belajar yang bersifat terbuka, demokratis, serta mampu mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai dan keterampilan-keterampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan dimasyarakat.

Menurut beberapa ahli pendidikan nilai – nilai positif yang terkadung dalam pembelajaran koopertif seperti Numbered Heads Together (NHT) antara lain, siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dan menjunjung tinggi norma kelompok, siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil, siswa aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok, dan interaksi siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.

Selain memiliki nilai positif pembelajaran kooperatif dengan Numbered Heads Together (NHT), memiliki kelemahan yang harus dihindari, yakni adanya anggota kelompok yang tidak aktif. Kelemahan ini dapat dihindari dengan cara :

  1. Masing–masing anggota kelompok bertanggung jawab pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan kelompok.
  2. Masing-masing anggota kelompok harus mempelajari materi secara keseluruhan. Hal ini karena kelompok ditunjukkan oleh skor perkembangan masing-masing individu dalam kelompok.

Sedangkan sikap ilmiah dapat dikembangkan dengan melakukan keterampilan proses ilmiah dengan melakukan eksperimen di laboratorium. Sikap ilmiah pada siswa akan sangat membantu dalam proses pembelajaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir diduga pembelajaran IPA  dengan menggunakan metode Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajarnya dalam konsep Klasifikasi Mahluk Hidup.

H.  HIPOTESIS

Berdasarkan hasil kajian teoritis dan kerangka pemikiran tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : ”Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil pembelajaran IPA  dalam konsep Klasifikasi Mahluk Hidup  dikelas VII A SMP Negeri 1 Bantarkalong Tasikamalaya”

PELAKSANAAN  PENELITIAN

  1. A.      Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas akan dilakukan dalam 3 siklus. Tindakan dilakukan pada setiap siklus akan selalu dievaluasi, dikaji dan direfleksikan dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas tindakan pada siklus berikutnya.

Semua informasi akan dapat diperoleh melalui lembar pengamatan (observasi) kegiatan pembelajaran siswa dalam pokok bahasan Klasifikasi Mahluk Hidup dengan Kompetensi Dasar (KD) 6.2 dengan menggunakan lembar evaluasi diri dalam aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh antar siswa, lembar penilaian yang dilakukan oleh guru setelah selesai pembelajaran, lembar observasi kegiatan mengajar guru yang dinilai oleh teman sejawat. Hasil observasi dalam evaluasi belajar dari setiap pembelajaran akan selalu dikaji dan diseleksi sehingga dapat menguatkan tindakan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya. Setiap siklus akan dilakukan langkah-langkah merujuk pada Hopkins (1993:88-89), yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi.

  1. Perencanaan Penelitian (Planning)

Pada tiap tahapan ini akan dilaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai

berikut :

1). Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), termasuk alat evaluasi yang diperlukan.

2). Membuat pedoman evaluasi diri dalam aktivitas proses pembelajaran Cooperative Learning model Numbered Heads Together

3). Membuat lembar observasi kegiatan pembelajaran siswa dan guru.

b.  Pelaksanaan Tindakan dan Observasi (action/Observation)

Pelaksanaan Tindakan dilakukan oleh peneliti, pada tahapan ini akan dilakukan pengimplementasian  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat, dilakukan dalam 3 siklus selama 4 minggu pada tanggal 22 Februari sampai tanggal 15 Maret 2011.

Pembelajaran untuk konsep Klasifikasi Mahluk Hidup untuk 3 siklus dilaksanakan dengan urutan sebagai berikut :

Pendahuluan :

  1. Memotivasi siswa dengan memita siswa menyebutkan cara mengelompokkan mahluk hidup.
  2. Menyampaikan judul dan tujuan pembelajaran.
  3. Mengadakan Pre tes

Kegiatan Inti :

  1. Membagi siswa dalam  8 kelompok yang terdiri dari 4-5 orang, setiap kelompok diberi nama kelompok.
  2. Setiap siswa dalam kelompok di beri nomor diri.
  3. Membagikan LKS pada setiap kelompok
  4. Siswa mengerjakan LKS, Guru membantu membimbing tiap-tiap siswa/kelompok.
  5. Guru menyebutkan secara diundi dan merata pada nomor diri siswa untuk menjawab pertanyaan, kemudian memberi skor pada tabel penskoran.
  6. Guru menjumlahkan skor kelompok dan menentukan kelompok terbaik saat itu.

Penutup :

  1. Memandu siswa membuat rangkuman dari hasil kegiatan
  2. Memberikan tugas rumah
  3. Post tes

Pelaksanaan observasi dilakukan oleh observer guru lain, dan dilaksanakan secara kolaboratif dengan teman sejawat, serta menggunakan instrumen yang disepakati bersama.

Pada setiap akhir pembelajaran siswa diminta tanggapan dengan cara wawancara dari beberapa siswa dan mengisi angket.

c.   Refleksi (Reflektive)

Setelah dilakukan tindakan, maka dilakukan analisis dari data hasil observasi, hasil evaluasi pembelajaran, evaluasi diri siswa dalam aktivitas proses pembelajaran, baik data kualitatif maupun data kuantitatif. Hasil analisis berupa temuan dan masukan yang berkaitan dengan keberhasilan dan kekurangan pada setiap tindakan yang dilakukan dipakai untuk merumuskan dan menentukan tindakan selanjutnya dengan menitik beratkan pada masalah yang belum terselsaikan.

SIKLUS I :

PLANING

REFLECTIVE

ACTION/OBSERVATION

REVISED PLAN

SIKLUS II :

                                                     

                                                      PLANING

REFLECTIVE

ACTION/OBSERVATION

REVISED PLAN

SIKLUS III :

PLANING

REFLECTIVE

ACTION/OBSERVATION

REVISED PLAN

  1. B.       Lokasi dan Waktu Penelitian   

Penelitian diakukan di kelas VII A SMP Negeri 1 Bantarkalong Tasikmalaya semester 2 Tahun  Pelajaran 2010/2011. Dilaksanakan dari tanggal 23 Pebruari sampai 15 Maret 2011.

  1. C.      Data dan Cara Pengumpulan Data
    1. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa.

  1. Jenis Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, hasil observasi pembelajaran, evaluasi diri siswa dan hasil belajar.

  1. Cara Pengumpulan Data

Data hasil belajar siswa diambil melalui evaluasi awal dan evaluasi pembelajaran berupa tes. Data mengenai pelaksanaan pembelajaran saat dilakukan tindakan akan dikumpulkan melalui lembar observasi kegiatan guru dan siswa.

  1. D.      Analisis Data

Setelah data terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis data yang berupa angka atau nilai tes, sedangkan analisis kualitatif diterapkan pada data yang berupa non angka yakni hasil non tes.

  1. E.       Evaluasi Penelitian.

Penelitian hasil proses pembelajaran pada Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dengan cara mengukur :

  1. Kognitif berupa tes tertulis.
  2. Psikomotor dengan menilai kinerja saat melakukan presentasi dan diskusi serta kemampuan menjawab pertanyaan dan menghargai pendapat orang lain
  3. Prosentase keaktifan dengan cara menilai aktivitas siswa saat melakukan diskusi dan menjawab pertanyaan.
  4. Respon siswa berupa sikap terhadap model pembelajaran Numbered Heads Together.

Teknik pembelajaran kriteria aspek penilaian tindakan kelas ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Prosentase ketuntasan belajar klasikal (TBK) :

TBK = S   x 100%                      Keterangan :

n                                       ∑S = jumlah siswa yang tuntas

                                                                  (> 6,5 sesuai KKM sekolah )

                                                                        n= Jumlah subyek (jumlah

`                                                                             siswa di dalam kelas

yang di teliti yaitu

kelas VII A

SMPN 1 Bantarkalong)

  1. Mencari nilai rata-rata (Mean)

Untuk mencari nilai rata-rata (mean), untuk data yang tidak dikelompokan, menurut DR. Nana Sujdana (2005 :  125), dirumuskan  sebagai berikut :

M = ∑ X                                   Keterangan :

N                                    M = Mean

X = nilai yang diperoleh individu

N = banyaknya individu.

  1. Evaluasi Prestasi Psikomotorik

Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah observasi (Muhibbin Syah, M.Ed, 2005 : 156). Alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar diantaranya norma skala angka dari 0 sampai 10, apabila rentangan mencapai rata – rata 8 – 10 menunjukan hasil sangat baik, sedangkan apabila mencapai rata – rata dibawah 5 dianggap gagal atau tidak memenuhi kriteria keberhasilan belajar.

  1. Prosentase Keaktifan Siswa

Untuk mencapai keaktifan siswa  dirumuskan :

Prosentase keaktifan siswa = Jlm siswa aktif x 100%

Jumlah siswa

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan Hasil Pembelajaran

 

      Siklus 1

Pada awal proses pembelajaran ketika diberi tindakan ada perubahan yang sangat berbeda bila dibandingkan sebelum dilakukan tindakan, pada siklus I terjadi perubahan suasana kelas. Siswa dengan cepat melaksanakan pemnbentukan kelompok, bersemangat melakukan diskusi  dan mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS), sangat antusias dalam menjawab pertanyaan.

Walaupun proses pembelajaran memperlihatkan kemajuan , berdasarkan tabel prosentase hasil observasi aktivitas siswa selama  pembelajaran, ada masalah-masalah yang ditemukan pada siklus I ini, seperti siswa masih  malas membaca buku sumber (61%), kurang mendengarkan penjelasan dari guru (62%), bertanya kepada guru/teman (65%) dan mengerjakan LKS dengan benar (hanya78%), kemudian siswa masih menganggap bahwa pembelajaran kelompok seperti ini merupakan beban berat, siswa yang tidak mencatat materi pembelajaran sebanyak 50%.
Masalah – masalah tersebut perlu untuk diperbaiki pada siklus berikutnya dengan  direfleksikan, dievaluasi  dan di diskusikan antara guru lain dan pengamat untuk menemukan alternatif pemecahannya.

Hasilnya adalah guru perlu memberikan motivasi lebih supaya siswa membiasakan budaya membaca terutama membaca buku sumber/materi pelajaran,   membimbing dalam mengerjakan LKS dan diskusi kelompok, memotivasi siswa untuk bertanya dan mau mndengarkan yang materi yang guru sampaikan, melatihkan pentingnya berfikir bersama, perlu memberikan perhatian ekstra kepada siswa yang tidak aktif, memberikan motivasi kepada siswa yang kurang percaya diri, memberikan sanksi bagi anggota kelompok atau siswa yang tidak disiplin dalam menjawab pertanyaan dan memperhatikan materi yang ingin disampaikan, serta bagi siswa yang tidak mencatat hasil diskusi.

Hasil akhir proses pembelajaran dari aspek kognitif 7,87 dan  berdasarkan hasil angket yang diperoleh pada siklus I bahwa aktifitas belajar siswa tinggi, namun  masih ada siswa yang merasa minder atau kurang percaya diri yaitu sebesar  40 %.

Berdasarkan hasil analisis dari hasil observasi siklus I, masih kurangnya aktifitas berfikir bersama kemungkinan disebabkan siswa belum terbiasa dengan pembelajaran yang menekankan pentingnya saling berinteraksi, kurangnya bimbingan guru dalam menyampaikan pentingnya bekerja sama (keterampilan sosial) dalam kelompok. Dari aspek kognitif prosentase ketuntasan belajar kalsikal belum mencapai 85 % yaitu hanya mencapai 70,00 % dengan demikian belum tuntas. Hal ini hubungannya dengan masih adanya siswa yang tidak mencatat hasil diskusi kelompok, masih ada siswa yang bekerja sendiri dalam mengerjakan tugas atau menjawab pertanyaan, siswa yang minder atau kurang percaya diri masih banyak dalam mengemukan pendapat atau bertanya kekelompok lain, serta pengelompokan yang kurang heterogen.

Siklus 2

Hasil pembelajaran observasi siklus 2 berjalan jauh lebih baik dari siklus 1 Siswa yang tidak disiplin dalam menjawab materi dan mencatat hasil diskusi diberi sanksi dengan cara mengurangi nilai kelompokknya . Memberikan Bimbingan intensif dan ekstra kepada seluruh siswa tanpa diskriminatif dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok maupun mengajarkan keterampilan sosial dengan cara menekankan pentingnya berfikir bersama, menyebabkan aktifitas mengerjakan tugas, berinteraksi, yaitu menyamakan persepsi, meyakinkan tiap anggota kelompok untuk berani mengemukakan pendapat  dan menjawab pertanyaan dengan penuh percaya diri  cukup menonjol.

Hasil akhir proses pembelajaran aspek kognitif sangat baik ada peningkatan yang signifikan, aspek  kognitif yang di capai pada siklus 2 yaitu sebesar sangat baik yaitu 86,67 % tuntas dengan rata-rata 85,00 lebih baik dari siklus 1. Berdasarkan pengamatan lembar observasi aktivitas siswa  dan berdasarkan hasil angket pada siklus 2  90 % siswa aktif mengikuti pembelajaran, mencatat hasil diskusi maupun hasil akhir pempelajaran atau kesimpulan, lebih percaya diri dan 80 % siswa mau membaca buku sumber, dan menurut siswa  pembelajaran kelompok dengan teknik NHT ini perlu untuk dikembangkan.

Siklus 3

Walaupun siklus 2 memberikan hasil yang positif, tapi masih ada kekurangan-kekurang yang harus diperbaiki pada siklus 3, dengan melihat hasil observasi  aktifitas siswa dalam pembelajaran masih kurang yaitu prosentase siswa dalam mendengarkan penjelasan dari  guru/teman belum maksimal hanya mncapai 79%, dan untuk aktivitas bertanya kepada guru/teman hanya 71%.

Bentuk pertanyaan yang dirancang guru berupa uraian singkat atau urauai pendek atau penggalan deskripsi suatu konsep, memotivasi siswa harus berkonsentrasi mendengarkan pertanyaan atau soal yang dibacakan agar tidak salah dalam menjawab. Kemudian masih ada 30 % yang beranggapan bahwa tehnik pembelajaran berkelompok ini menjadi beban, dan sebanyak 10% siswa belum mencatat materi pembelajaran.

Dan perlu  diadakan perbaikan-perbaikan dalam siklus 3 supaya pembelajaran lebih maksimal dan tujuan akhir pembelajaran tercapai. Kami sebagai fasilitator tidak segan-segan untuk memberikan bimbingan kepada siswa yang masih memiliki kelemahan.

Waktu tidak terasa 2 jam pelajaran telah habis dengan mengesankan dan para siswa sangat aktif, dalam berdiskusi dan mengerjakan LKS, dengan penuh percaya diri mereka menyampaikan hasil pembelajaran.

Hasil akhir proses pembelajaran dari siklus 3 aspek kognitif sangat baik yaitu 96,67% dengan nilai rata-rata 9,07. Dari Aspek aktivitas siswa yang tertera dalam lembar observasi siswa meningkat yaitu sebesar 90% keatas.

Dari respon yang yang diberikan siswa dapat disimpulkan bahwa  pembelajaran yang dilaksanakan merupakan hal baru, merasa senang mengikuti pelajaran, tugas lebih mudah dikerjakan, merasa siap menjawab pertanyaan, memusatkan perhatian, berpikir kritis serta lebih bergairah.Ini menunujukan bahwa pembelajran IPA pada konsep Klasifikasi Mahluk Hidup yang mengintegrasikan model pembelajaran koopertif dengan teknik Numberd Heads Together (NHT) mendapat respon positif dari siswa dan dampak positifnya adalah meningkatkan hasil belajar siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A.    Kesimpulan
    1. Pembelajaran IPA  pada konsep Klasifikasi Mahluk Hidup dengan model pembelajaran koopertif dan menggunakan teknik Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan aktivitas siswa berkelompok, mengerjakan tugas-tugas, membaca buku sumber/materi pelajaran, berpikir bersama, bertanya dan menjawab pertanyaan dari dan kepada guru/siswa. (Keaktifan siswa 100 % dan  kemampuan  mempelajari konsep IPA khususnya biologi 99 %).
    2. Pembelajaran IPA pada konsep Klasifikasi Mahluk hidup dengan teknik Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VII A SMP Negeri 1 Bantarkalong Kabupaten Tasikmalaya. (Kognitif ; TBK = 96,67 % dan M = 9,07).
    3. Respon Siswa

Respon siswa terhadap pembelajaran pada konsep Klasifikasi Mahluk Hidup dalam model pembelajaran kooperatif dengan teknik Numbered Heads Together (NHT) adalah positif. (berdasarkan angket 100 % siswa merasa senang dengan pembelajaran diatas).

  1. B.       Saran
    1. Poses bimbingan yang insentif dalam hal menyelesaikan tugas-tugas kelompok maupun individual dan pentingnya bekerja sama dalam kelompok sangat menentukan keberhasilan pembelajaran terutama dalam hal meningkatkan aktivitas siswa.
    2. Rasa percaya diri dan keberanian mengemukakan pendapat perlu ditanamkan sejak dini kepada semua siswa.
    3. Pembentukan kelompok siswa harus diperhatikan dari segi tingkat kecerdasan sehingga terbentuk kelompok yang heterogen.
    4. Model pembelajaran koopertatif dengan teknik Numbered Heads Together (NHT) bisa diterapkan pada mata pelajaran yang lain, untuk itu semua guru supaya mencobanya.

DATA PERSONALIA PENELITI

 

a. Nama                             :  TUTUN RUBINAH HIDAYAT,

b. Tempat,tgl lahir             :  Tasikmalaya, 18 Juli 1979

c. Jenis Kelamin                :  Perempuan

d. Pangkat/Golongan/NIP            :  Penata Tk I/IIIb/19790718 200701 2 007

e. Tempat Mengajar          :  SMP Negeri 1 Bantarkalong

f. Alamat Mengajar           :  Jl. Pemuda 2 Hegarwangi

Kec. Bantarkalong 46187 Tasikamalaya

g. Alamat Rumah              :  Kp. Cigaru RT/RT : 012/006 Karangmekar

Kec. Karangnunggal 46186

  1. Tlp/Hp                         :  (0265) 580086/581646/081323511548

DAFTAR PUSTAKA

DR. Nana Sudjana (2001). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru Algensindo

Muhibbin Syah, M.Ed.(2005). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : Rosdakarya.

Drs. Muslihudin, M.Pd. (2009). Kiat Sukses Melakukan Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Rizki Press.

Art & Newman (1990,448) Model–Model Pembelajaran dalam http:/www.Indiana.edu. (2011) BBM Bermutu.

Sanjaya, Wina. (2006). Stratergi Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media.

———————–. 2005. Materi Pelatihan Terintegritas Buku 3 : Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta : Depdiknas.

Depdiknas (2002). Pendekatan Kontekstual (CTL), Jakarta.

Surahman, Endang. (2005). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Tasikmalaya : Universitas Siliwangi.

Narsih. (2009). Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Pada Konsep Ciri-Ciri Mahluk Hidup Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa.(Penelitian Tindakan Kelas  di kelas VII F SMP Negeri 1 Bantarkalong Tasikmalaya). Skripsi FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya : Tidak diterbitkan.

Gunawan. (2007). Paru-Paruku Sakit Akibat Merokok Model Dalam Contextual Teaching and Learning Untuk meningkatkan kemampuan belajar IPA di SMPN 1 Karangnunggal Tasikmalaya. (Laporan PTK di kelas VIII A SMPN 1 Karangnuanggal Tasikmalaya). Tasikmalaya : Tidak diterbitkan.

Ariani Kaswara. (2010). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Tekanan Melalui Kuis Numbered Heads Together (NHT). (Laporan PTK Di Kelas VIII A SMPN 1 Bojongasih). Tidak diterbitkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s